KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang
telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga tugas ini
dapat selesai pada waktunya,semoga apa yang kita lakukan mendapat balasan yang
setimpal. Maha suci Allah yang telah mempermudah segala urusan kita semua,tanpa
ia tidak apa-apanya kita ini.
Makalah ini disusun agar
pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap
mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “KOLOID” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.
Makalah ini memuat tentang “KOLOID” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.
Penyusun juga mengucapkan
terima kasih kepada guru/dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun
agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Bengkulu, Mei 2012
Kelompok
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL .........................................................................................
KATA
PENGANTAR ........................................................................................
DAFTAR
ISI
......................................................................................................
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang ....................................................................
1.2. Tujuan
................................................................................
BAB
II. SISTEM KOLOID.......................................................................
2.1. Pengertian Koloid ...............................................................
2.2. Dispersi Koloid
....................................................................
2.3. Penggolongan Koloid
..........................................................
2.4. Sifat – Sifat
Koloid ..............................................................
2.5. Beberapa Macam
Koloid......................................................
2.6. Pemurnian Koloid
................................................................
2.7. Kegunaan Koloid
.................................................................
2.8. Dialisis
.................................................................................
BAB
III. PENUTUP ...................................................................................
3.1. Kesimpulan
...........................................................................
3.2. Kritik dan Saran
....................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Sistem koloid merupakan bentuk
campuran dari dua atau lebih suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang
bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1
- 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall (adalah efek yang terjadi jika suatu
larutan terkena sinar).
Bersifat homogen berarti partikel
terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan
kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan. Sifat homogen ini juga dimiliki
oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di
mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh
koloid yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sitoplasma dalam sel
juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam
kimia industri karena kepentingannya.
1.2 Tujuan
Menjelaskan
tentang Sistem - Sistem Koloid
BAB II
ISI
2.1. PENGERTIAN KOLOID
Koloid adalah suatu bentuk
campuran yang keadaannya antara larutan dan suspensi. Larutan memiliki sifat
homogen dan stabil. Suspensi memiliki sifat heterogen dan labil. Sedangkan
koloid memiliki sifat heterogen dan stabil. Koloid merupakan sistem heterogen,
dimana suatu zat "didispersikan" ke dalam suatu media yang homogen.
Ukuran zat yang didispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) hingga satu
mikrometer (µm).
perhatikan
perbedaan tiga contoh campuran di bawah ini :
a. Campuran
antara air dengan sirup.
b. Campyuran
antara air dengan susu.
c. Campuran
antara air dengan pasir.
Jika kita campurkan air dengan sirup maka sirup
akan terdispersi (bercampur) dengan air secara homogen (bening) Jika didiamkan,
campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan
biasa maupun penyaringan yang lembut (penyaringan mikro). Secara makroskopis
maupun mikroskopis mcampuran ini tampak homogen, tidak dapat dibedakan mana
yang air dan mana yang sirup. Campuran seperti inilah yang disebut larutan.
Jika kita campurkan susu (misalnya, susu instan)
dengan air, ternyata susu "larut" tetapi "larutan" itu
tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan
juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh).
Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati
dengan mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel lemak
susu yang tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid.
Jika kita campurkan air dengan pasir maka pasir
akan terdispersi (bercampur) dengan air secara heterogen dan langsung
memisah antara air dengan pasir, yang keadaannya pasir akan mengendap di dasar
air dan dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa, bahkan dapat dipisahkan
dengan cara dituang perlahan-lahan. Secara makroskopis campuran ini sudah
tampak hetrogen, dapat dibedakan mana yang air dan mana yang pasir. Campuran
seperti inilah yang disebut suspensi.
Jadi, koloid tergolong campuran heterogen (dua
fase) dan setabil. Zat yang didipersikan disebut fase terdispersi,
sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium
dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus),
sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan
air, fase terdispersi adalah lemak, sedangkan medium dispersinya adalah air.
Pembuatan Koloid
1. Cara Kondensasi
a.
Dilakukan dengan cara menggabungkan atau mengumpulkan molekul atau
ion dari larutan sejati menjadi partikel koloid
b.
Dapat dilakukan melalui : Reaksi Redoks, Reaksi Hidrolisis, Reaksi
Penggaraman
2. Cara Dispersi
a.
Proses mengubah partikel kasar menjadi partikel koloid.
b.
Dilakukan melalui : Cara mekanik (penggerusan), cara peptisasi
(penambahan ion sejenis dalam endapan), cara busur bredig (cara listrik)
Cara Kondensasi
Cara
kondensasi termasuk cara kimia.
Partikel
molekular ------> Partikel koloid
contoh
:
Reaksi Redoks
2 H2S(g) + SO2(aq) ------> 3 S(s) + 2 H2O(l)
2 H2S(g) + SO2(aq) ------> 3 S(s) + 2 H2O(l)
Reaksi Hidrolisis
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) ------> Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) ------> Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
Reaksi Substitusi
2 H3AsO3(aq) + 3 H2 ------> S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l)
2 H3AsO3(aq) + 3 H2 ------> S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l)
Reaksi Penggaraman
Beberapa sol garam yang sukar larut seperti AgCl,
AgBr, PbI2, BaSO4 dapat membentuk partikel koloid dengan pereaksi yang encer.
AgNO3(aq) (encer) + NaCl(aq) (encer) ------> AgCl(s) + NaNO3(aq) (encer)
AgNO3(aq) (encer) + NaCl(aq) (encer) ------> AgCl(s) + NaNO3(aq) (encer)
-
Cara
Dispersi
Cara dispersi dapat dilakukan dengan cara mekanik
atau cara fisika:
Partikel
Besar ------> Partikel Koloid
-
Cara
Mekanik
Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang
besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau penggilingan.
-
Cara
Busur Bredig
Cara ini digunakan untak membuat sol-sol logam.
-
Cara
Peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari
butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi
(pemecah).
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH)3 oleh AlCl3
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH)3 oleh AlCl3
2.2. DISPERSI
KOLOID
Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar (suspensi).
Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik, peptisasi, busur
Bredig, dan ultrasonik.
a) Proses Mekanik
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui penggerusan atau
penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau pengocokan (untuk
zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran
koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh,
pembuatan sol belerang.
b) Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat
elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid.
Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari
endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.
c) Busur Bredig
Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel koloid
dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya adalah dengan membuat
logam, yang hendak dibuat solnya, menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai
elektrode yang dicelupkan ke dalam air; kemudian diberi loncatan listrik di
antara kedua ujung kawat. Logam sebagian akan meluruh ke dalam air sehingga
terbentuk sol logam. Contoh, pembuatan sol logam.
d) Suara Ultrasonik
Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan
sol logam. Ka1au busur Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka
cara ultrasonik menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu
di atas 20.000 Hz.
Sumber reprensi:
4. Kimia Untuk Universitas
2.3. PENGGOLONGAN KOLOID
Koloid dapat dibagi atas Koloid
Dispersi dan Koloid Asosiasi
1.
Koloid
Dispersi
Yaitu Koloid yang partikelnya tidak
dapat larut secara individu dalam medium. Yang terjadi hanyalah penyebaran
(Dispersi) partikel tersebut. Yang termasuk kelompok ini adalah Koloid
Mikromolekul (Protein dan Plastik). Agregal molekul (koloid belerang) dan
agregat atom (Sol Emas dan platina).
2. Koloid
Asosiasi
Yaitu koloid yang terbentuk dari
gabungan (Asosiasi) partikel kecil yang larut dalam medium. Contoh : Koloid Fe (OH)3. Senyawa ini larut
dalam air menjadi ion Fe + dan OH - .
jika larutan Fe + dan OH – di campur sedemikian rupa sehingga berasosiasi
membentuk keristal kecil yang melayang – layang dalam air sebagai koloid.
2.4. SIFAT – SIFAT KOLOID
1. Efek Tyndall
Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas
sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran
molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall
(1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut
efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika
suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari
dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan
pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi
karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar
untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit
dan sangat sulit diamati.
2.
Gerak
Brown
Jika kita amati system koloid
dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel
tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak
Brown. Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut:
Partikel-partikel suatu zat
senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair
dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk system
koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel
akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri.
Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel
cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga
terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel
sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel
koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran
partikel kolopid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan
mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat
padat (suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi
oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic
yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown
dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula
sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
3.
Adsorbsi
Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi
(penyerapan) terhadap partikel atau ion atau senyawa yang lain.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari absorbsi yang artinya penyerapan sampai ke bawah permukaan).
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S2.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari absorbsi yang artinya penyerapan sampai ke bawah permukaan).
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S2.
4.
Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan
partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat
terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
5.
Koloid
Liofil dan Koloid Liofob
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan.
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan.
1. Koloid Liofil: sistem koloid yang affinitas fase
terdispersinya besar terhadap
medium pendispersinya.
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
2. Koloid Liofob : sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya
kecil terhadap
medium pendispersinya.
Contoh: sol belerang, sol emas.
Contoh: sol belerang, sol emas.
2.5.MACAM
– MACAM KOLOID
Sistem
koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium
pendispersi. Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat,
cair, dan gas. Berdasarkan fase terdispersinya, sistem koloid dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a. Koloid Sol
Seperti
yang telah dijelaskan, sol merupakan jenis koloid dimana fase terdispersinya
merupakan zat padat. Berdasarkan medium pendispersinya, sol dapat dibagi
menjadi:
1. Sol Padat
Sol
padat merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah paduan
logam, gelas berwarna, dan intan hitam.
2. Sol Cair (Sol)
Sol cair
merupakan sol di dalam medium pendispersi cair. Contohnya adalah cat, tinta,
tepung dalam air, tanah liat, dll.
3. Sol Gas (Aerosol
Padat)
Sol gas
merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah debu di
udara, asap pembakaran, dll
b.
Koloid
Emulsi
Seperti
yang telah dijelaskan, emulsi merupakan jenis koloid dimana fase terdispersinya
merupakan zat cair. Kemudian, berdasarkan medium pendispersinya, emulsi dapat
dibagi menjadi:
1. Emulsi Gas (Aerosol Cair)
Emulsi
gas merupakan emulsi di dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair seperti
hairspray dan baygon, dapat membentuk system koloid dengan bantuan bahan
pendorong seperti CFC. Selain itu juga mempunyai sifat seperti sol liofob yaitu
efek Tyndall, gerak Brown.
2. Emulsi Cair
Emulsi
cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi cair. Emulsi cair melibatkan
campuran dua zat cair yang tidak dapat saling melarutkan jika dicampurkan yaitu
zat cair polar dan zat cair non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah
air dan zat lainnya seperti minyak.
Sifat emulsi cair yang
penting ialah:
-
Demulsifikasi
Kestabilan emulsi cair dapat rusak akibat
pemanasan, pendinginan, proses sentrifugasi, penambahan elektrolit, dan
perusakan zat pengelmusi.
-
Pengenceran
Emulsi dapat diencerkan dengan penambahan
sejumlah medium pendispersinya.
-
Emulsi
Padat atau Gel
Gel merupakan emulsi didalam medium pendispersi
zat padat. Gel dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan sebagian sol cair.
Pada penggumpalan ini, partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu
rantai panjang. Rantai ini kemudian akan saling bertaut sehingga terbentuk
suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam
lubung-lubang struktur tersebut.
Berdasarkan sifat keelastisitasnya, gel dapat dibagi menjadi:
1.
Gel elastic
Gel yang bersifat elastis, yaitu dapat berubah
bentuk jika diberi gaya dan kembali ke bentuk awal jika gaya ditiadakan. Contoh
adalah sabun dan gelatin.
2.
Gel non-elastis
Contoh adalah gel silica.
c.
Koloid
Buih
Buih
merupakan koloid dimana fase terdispersinya merupakan gas. Kemudian, berdasarkan
medium pendispersinya, buih dapat dibagi menjadi:
1. Buih Cair (Buih)
Buih
cair adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersi
zat cair. Biasanya fase terdispersi gas berupa udara atau CO2. Kestabilan buih
diperoleh karena adanya zat pembuih (surfaktan). Zat ini teradsorpsi ke daerah
antar fase dan mengikat gelembung-gelembung gas sehingga diperoleh kestabilan.
Contohnya adalah buih yang dihasilkan alat pemadam kebakaran dan kocokan putih
telur.
Sifat-sifat buih cair ialah:
a.
Struktur buih cair berubah dengan waktu karena
drainase (pemisahan medium pendispersi) akibat kerapatan fas dan zat cair yang
jauh berbeda, rusaknya film antara dua gelembung gas, dan ukuran gelembung gas
menjadi lebih besar akibat difusi.
b.
Struktur buih cair dapat berubah jika diberi
gaya dari luar
2. Buih Padat
Buih
padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersi zat
padat. Kestabilan buih padat diperoleh dari zat pembuih (surfaktan). Beberapa
buih padat yang kita kenal adalah roti, styrofoam, batu apung,dll
Sebagai
catatan, tidak terdapat buih gas, dimana medium pendispersi dan fase
terdispersi sama-sama berupa gas. Hal itu karena campuran dari keduanya
tergolong sebagai larutan.
Sumber
Reprensi :
3.
Kimia Untuk Universitas
2.6.PEMURNIAN
KOLOID
Seringkali
terdapat zat-zat terlarut yang tidak diinginkan dalam suatu pembuatan suatu
sistem koloid. Partikel-partikel tersebut haruslah dihilangkan atau dimurnikan
guna menjaga kestabilan koloid. Ada beberapa metode pemurnian yang dapat
digunakan,
yaitu :
1. Dialisis
Dialisis
adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel pada
permukaannya. Pada proses dialisis ini digunakan selaput semipermeabel.
Pergerakan ion-ion dan molekul – molekul kecil melalui selaput semipermiabel
disebut dialysis. Suatu koloid biasanya bercampur dengan ion-ion pengganggu,
karena pertikel koloid memiliki sifat mengadsorbsi. Pemisahan ion penggangu
dapat dilakukan dengan memasukkan koloid ke dalam kertas/membran semipermiabel
(selofan), baru kemudian akan dialiri air yang mengalir. Karena diameter ion
pengganggu jauh lebih kecil daripada kolid, ion pengganggu akan merembes
melewati pori-pori kertas selofan, sedangkan partikel kolid akan tertinggal.
Proses
dialisis untuk pemisahan partikel-partikel koloid dan zat terlarut dijadikan
dasar bagi pengembangan dialisator. Salah satu aplikasi dialisator adalah
sebagai mesin pencuci darah untuk penderita gagal ginjal. Jaringan ginjal
bersifat semipermiabel, selaput ginjal hanya dapat dilewati oleh air dan
molekul sederhana seperti urea, tetapi menahan partikel-partikel kolid seperti
sel-sel darah merah.
|
|
2.
Elektrodialisis
Pada
dasarnya proses ini adalah proses dialysis di bawah pengaruh medan listrik.
Cara kerjanya; listrik tegangan tinggi dialirkan melalui dua layer logam yang
menyokong selaput semipermiabel. Sehingga pertikel-partikel zat terlarut dalam
sistem koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju elektrode dengan muatan
berlawanan.
Adanya
pengaruh medan listrik akanmempercepat proses pemurnian sistem koloid. Elektrodialisis
hanya dapat digunakan untuk memisahkan partikel-partikel zat terlarut
elektrolit karena elektrodialisis melibatkan arus listrik.
|
|
3. Penyaring
Ultra
Partikel-partikel
kolid tidak dapat disaring biasa seperti kertas saring, karena pori-pori kertas
saring terlalu besar dibandingkan ukuran partikel-partikel tersebut. Tetapi,
bila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka ukuran
pori-pori kertas akan sering berkurang. Kertas saring yang dimodifikasi
tersebut disebut penyaring ultra.
Proses
pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini termasuklambat, jadi tekanan
harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini. Terakhir, partikel-pertikel
koloid akan teringgal di kertas saring. Partikel-partikel kolid akan dapat
dipisahkan berdasarkan ukurannya, dengan menggunakan penyaring ultra bertahap.
|
|
Sumber
refrensi:
3. Kimia Untuk Universitas
2.7.KEGUNAAN
KOLOID
Dalam
kehidupan sehari-hari banyak kegunaan koloid baik langsung maupun tidak
langsung. Beberapa kegunaan koloid adalah sebagai berikut:
- Industri kosmetika
Bahan kosmetika seperti foundation,
finishing cream dan deodorant berbentuk koloid dan umumnya sebagai
emulsi.
- Industri tekstil
Pada proses pencelupan bahan (untuk
pewarnaan) yang kurang baik daya serapnya terhadap zat warna dapat menggunakan
zat warna koloid karena memiliki daya serap yang tinggi sehingga melekat pada
tekstil.
- Industri sabun dan deterjen
Sabun dan deterjen merupakan
emulgator untuk membentuk emulsi antara kotoran (minyak) dengan air.
- Kelestarian lingkungan
Untuk mengurangi polusi udara yang
disebabkan oleh pabrik-pabrik, digunakan suatu alat yang disebut cotrell.
Alat ini berfungsi untuk menyerap partikel-partikel koloid yang terdapat dalam
gas buangan yang keluar dari cerobong asap pabrik.
- Pemutihan Gula
Gula tebu yang
masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian
larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel
koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut
mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.
Darah mengandung
sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka
tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion
Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein
bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
- Penjernihan Air
Air keran (PDAM)
yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan
berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk
menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar
partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara
menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan
terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui
reaksi:
Al3+ + 3H2O à Al(OH)3 + 3H+
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:
Al3+ + 3H2O à Al(OH)3 + 3H+
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:
- Pembentukan delta di muara sunga
Air sungai
mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan
negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg+2, dan Ca+2 yang
bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif dari
air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi
koagulasi yang akan membentuk suatu delta.
9.
Pengambilan endapan pengotor
Gas
atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mangandung
zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untukmemisahkan pengotor ini,
digunakan alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan
digunakan untuk menarik partikel-partikel koloid.
2.8.DIALISIS
a. proses penghilangan ion-ion penggangu kestabilan koloid dengan
menggunakan selaput Semipermeabel.
b. Selaput semipermeabel adalah selaput yang hanya dapat dilewati
oleh ion dan air tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel koloid.
c.
Aplikasi dalam kehidupan : Dalam
proses cuci darah penderita gagal ginjal, proses dialysis Berfungsi untuk
menghilangkan urea dari darah.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian bahasan “KOLOID” dapat disimpulkan bahwa :
Koloid adalah suatu campuran
zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel
zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara
merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid
berkisar antara 1-100 nm.
Keadaan koloid atau sistem
koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid atau suatu koloid adalah suatu
campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi dengan ukuran
partikel terdispersi berkisar antara 10-7 sampai dengan 10-4 cm. Besaran
partikel yang terdispersi, tidak menjelaskan keadaan partikel tersebut.
Koloid banyak ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari, contohnya saja di alam, kedokteran,
pertanian, dsb;
3.2. KRITIK DAN SARAN
Dari pokok pembahasan ini, kami
kelompok mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu
pengetahuan tentang Sistem Koloid. Kami kelompok menyadari masih banyak
kekurangan dalam makalah ini untuk itu kami mengharapkan kritik dan sarannya
untuk perbaikan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1990. Kimia
Fisika Jilid 2 Edisi Keempat. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Keenan. 1999. Kimia
Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.
Sukardjo. 1990.
Kimia Anorganik. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar